Kepingan Perjalanan #2

Mudik, dapat dibilang menjadi salah satu momen paling membahagiakan bagi para perantau. Saat para perantau dapat berkumpul kembali bersama keluarga mereka di kampung halaman. Betapa beruntungnya aku, karena memiliki orang tua yang berstatus perantau dari dua daerah yang berbeda. Ayahku dulu dilahirkan di Kota Bandung tetapi aki dan nini (sebutan untuk kakek dan nenek dalam Bahasa Sunda) bertempat tinggal di Kota Garut, tepatnya di daerah Tarogong. Hal ini membuatku pada waktu kecil rutin mudik ke Kota Garut. Sedangkan ibuku dilahirkan di Kabupaten Yogyakarta dan mbah kakung serta mbah putri (sebutan untuk kakek dan nenek dalam Bahasa Jawa) bertempat tinggal di Kabupaten Yogyakarta juga hingga akhir hayatnya. Rumah mbah yang terletak di daerah Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta itu letaknya cukup jauh dari Ibukota Jakarta sehingga pada masa kecil jarang sekali aku mengunjungi tempat itu.

Bagi anak kecil sepertiku tentu hari raya idul fitri menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. Karena aku tahu kalau orang tuaku akan mengajak seluruh anggota keluarga untuk mudik atau sering pula disebut pulang kampung. Tidak masalah aku akan mudik ke Garut atau ke Gunung Kidul karena ke mana pun mereka akan mengajak aku mudik tentu akan mempertemukanku dengan indah dan segarnya alam pedesaan yang sangat berbeda dengan suasana di Kota Jakarta. Terlebih lagi momen bersilaturahim dengan keluarga besar menjadi pintu awal bagiku untuk belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain secara baik dan benar. Hanya saja saat itu aku belum menyadarinya, karena yang ada dipikiranku adalah betapa menyenangkannya dapat bertemu dengan kakek, nenek, saudara, dan sepupuku.

Aku masih ingat pertama kalinya aku diperkenalkan secara nyata dengan alam, mungkin usiaku saat itu sekitar 3 atau 4 tahun. Rumah kakek yang ada di Garut terletak di tengah wilayah persawahan dan rumah yang pada saat itu masih memiliki banyak ornamen hiasan dari bambu berada di hadapan sebuah kolam ikan yang cukup luas. Kakek membudidayakan ikan air tawar di kolam tersebut dan jika ada yang mendekat ke tepian kolam, ikan-ikan tersebut akan bergerak-gerak menimbulkan gelombang serta riak air di permukaan kolam. Hal ini menjadi fenomena yang sangat menarik bagi balita sepertiku.

Tak puas mengamati dari jauh, aku dekati tepian kolam ikan tersebut. Aku melihat dengan takjub sebuah ikan mas cukup besar sedang muncul ke permukaan air. Aku dekati permukaan air sedikit demi sedikit karena keinginanku untuk meraihnya, ikan mas besar di hadapanku. Entah apa yang ada di pikiranku, mungkin bagiku yang masih balita itu sebuah ikan mas besar sama dengan sebuah kesempatan besar yang harus aku raih dan aku dapatkan.

“Aku miliki.”.

Sebuah ambisi besar tanpa perhitungan yang matang (yaiyalah namanya juga masih balita). Tanpa berpikir resiko yang akan menghampiriku, dengan mantap aku ulurkan tanganku untuk meraih ikan mas itu hingga tak terasa badanku semakin condong ke kolam. Sepersekian detik aku merasakan slow motion (gerakan yang berlangsung lambat) pertama dalam hidupku, saat itu pula aku mengetahui bahwa sebentar lagi tubuhku akan segera jatuh ke dalam kolam. Dan begitu aku tersadar dari adegan lambat tersebut, bukanlah seekor ikan mas yang ada di dalam genggaman tanganku tetapi gelembung udara yang mulai berhamburan di dalam air yang ada di sekeliling tubuhku. Hanya kehampaan yang kurasakan saat itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s