Kepingan Perjalanan #3

Gagal, sebuah hal yang saya dapatkan ketika terjatuh ke dalam kolam ikan saat itu. Keinginan untuk memiliki sesuatu berlandaskan nafsu semata mengantarkan kepada sebuah kecelakaan. Aku yang masih balita itu tercebur ke dalam kolam ikan tanpa bisa berenang kembali tepian. Setiap orang yang ada di sekitar dibuat panik dan kesusahan olehku, padahal semua itu murni kesalahanku. Namun hingga akhirnya aku terselamatkan dan diangkat ke tepian kolam, beberapa orang masih menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga dan mengawasiku.

Ya, itulah bagaimana pertama kalinya aku berkenalan dengan alam dan bersamaan momen perkenalanku dengannya, ia kenalkan pula aku dengan kegagalan. Tapi kenapa kita terjatuh? Untuk dapat belajar bangkit kembali. Tangisanku yang tak berhenti saat itu karena merasakan sakit entah karena merasa gagal atau karena susahnya bernapas (yaiyalah nelen air segitu banyak) tiba-tiba usai saat kulihat sepupu-sepupuku mengeluarkan pancingan ikan. Keingintahuanku pada alat yang mereka pegang itu menyudahi tangisanku. Kuperhatikan mereka bagaimana merangkai tangkai pancing yang dilegkapi dengan benang dan mata kail. Seekor makhluk bertubuh ramping menggeliat geliat dari dalam plastik saat digenggam oleh tangan sepupuku dan kemudian ia sangkutkan makhluk tersebut ke mata kail.

Setelah semua peralatan memancing telah siap, ia pun dengan mantap melemparkan mata kail beserta makhluk yang akhirnya aku kenal dengan sebutan cacing itu ke dalam kolam. Tak perlu menunggu lama tangkai pancing miliknya bergerak-gerak, pertanda bahwa ada seekor ikan yang melahap umpan diujung mata kailnya. Saat tangkai pancing itu ia angkat bukan seekor cacing lagi yang aku lihat tersangkut di ujung mata kail tetapi makhluk yang lebih besar, ikan mas. Mulutku menganga dan wajahku melongo sejauh yang kuingat saat menyaksikan ikan yang aku inginkan didapatkan oleh sepupuku (tapi kayanya sih ikannya beda, tapi tetep aja gue juga pengen ikan mas awalnya eh malah nyebur ke kolam).

Mungkin belum aku sadari pada saat itu, tetapi semua itu terekam tak pernah mati dalam otakku. Dalam satu hari kurekam dua pelajaran sekaligus tanpa kusadari, apa itu kegagalan dan bagaimana mendapatkan sebuah keberhasilan. Lalu apakah aku langsung bangkit saat itu juga? Tentu tidak. Hahahahaha. Aku kembali menangis setelah itu. Meratapi kebodohan ku.

Menangislah sepuasmu saat kau gagal, biarkan orang-orang yang ada di sekitarmu menertawai kegagalanmu, biarkan orang lain memarahi kelalaianmu pada saat itu. Belajarlah merelakan semua itu terjadi apa yang bukan menjadi kuasamu. Hingga akhirnya kau lelah, terlalu lelah untuk menangis lagi, terlalu lelah untuk mendengar tawa dan cemoohan mereka padamu, terlalu lelah untuk meratapi kegagalanmu. Hingga yang kamu sadari, satu-satunya jalan adalah bangkit dan naik ke atas permukaan karena telah kamu rasakan bagimana rasanya membentur tanah terbawah.

Tanpa disadari si anak nakal yang sudah lelah dan sudah menghentikan tangisannya tersebut. Di hadapannya terpampang daging ikan bakar yang terlihat lunak. Aku yang sudah lelah dan lapar karena menangis tak berhenti (kayaknya nonstop 2 x 45 menit, Hahahahaha, emangnya pertanfingan bola) pun akhirnya mencicipi lezatnya daging ikan bakar itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s