Kepingan Perjalanan #4

Mudah untuk teralihkan oleh hal lain, adalah salah satu kebiasaan yang sering kali dianggap biasa saja oleh kita sebagai manusia. Tak terkecuali aku pada waktu itu, mungkin usiaku sekitar 4 / 5 tahun dan baru saja memulai kelas pertamaku di Taman Kanak-Kanak.  Setelah kelas selesai, Ibuku sudah menunggu di depan sekolah dan beliau hendak mengajak aku pergi menuju salah satu pusat perbelanjaan. Tak perlu waktu lama kami kini telah tiba di swalayan besar yang ada di bilangan Jakarta Selatan. Baru saja kami masuk ke dalam pasar swalayan, aku sudah lari dengan penuh semangat menuju ke tempat keranjang belanja. Ibu pun mengejarku dan mengambil keranjang belanja untuk dibawa masuk. Mungkin 10 menit pertama belum menjadi masalah untuk ibu, karena aku masih mengikuti tepat di sampingnya. Namun, berbelanja belum menjadi hal yang menarik bagiku saat itu. Hal yang menarik bagiku saat itu adalah setumpuk bungkus makanan ringan berwarna-warni yang berjejer rapi di rak.

Tak seperti anak lainnya yang ingin dibelikan jajanan berupa makanan ringan oleh ibunya, keinginanku adalah menjelajah pasar swalayan ini. Mungkin bagiku setiap rak yang ada di sana bagaikan sebuah labirin yang menarik unuk dijelajahi. Tentu saja hal yang membuatku teralihkan dari ibu yang sedang membawa keranjang dan memilih barang belanjaan adalah bungkus makanan ringan yang berwarna-warni. Tak sadar bahwa ibuku melangkah maju, aku masih diam terpaku di antara rak berisi makanan ringan. Mungkin yang ada di pikiranku saat itu adalah bagaimana cara melewati labirin berwarna-warni tersebut. Penasaran untuk berjalan-jalan sendiri dalam rangka mengusir kebosanan dan takut akan kehilangan jejak ibu, maka ide terbaik milikku adalah menjatuhkan setiap bungkus makan ringan di sisi kananku setiap kali aku melangkah maju. Tak terasa sudah cukup jauh aku berjalan melewati beberapa rak yang ada di sana, dan sudah saatnya aku kembali pada ibuku.

Lalu aku ikuti saja jejak bungkus makanan yang berjatuhan tepat di belakangku.  Hingga akhirnya aku berbelok di rak terakhir, secara bersamaan dari kejauhan kulihat pula ibuku sedang meminta maaf pada pramuniaga yang ada di swalayan tersebut sambil membantu merapikan setiap bungkus yang jatuh ke lantai dan menaruhnya kembali ke dalam rak. Segera aku hampiri ibuku dan aku lihat di sana, di matanya kekhawatiran yang perlahan sirna karena anaknya telah ditemukan. Lambat laun aku baru menyadarinya bahwa pada perjalananku kali ini di pasar swalayan telah menciptakan kesusahan pada orang lain dan orang tuaku sendiri. Apa yang aku kira bahwa itu adalah ide serta solusi terbaik untuk kepentinganku dan memecahkan masalahku sendiri, ternyata bisa jadi itu adalah hal yang akan membawa kesulitan bagi orang lain pada saat yang bersamaan pula.

Sejak saat itu aku catat hal tersebut di dalam ingatanku, walau aku sendiri belum bisa meresapi maknanya secara detail. Hanya saja yang aku ingat pada hari itu, menjatuhkan barang-barang dari rak yang ada di pasar swalayan akan menyusahkan ibuku. Mungkin karena waktu itu masih sederhana sekali caraku memahami setiap perjalanan yang terjadi dalam hidupku. Hingga akhirnya melewatkan sebuah kepingan cerita dari sebuah perjalanan yang seharusnya dapat aku ingat dan dapat aku jadikan panduan.

Bahwa ide serta solusi terbaik untuk kepentingan dan memecahkan masalah kita sendiri hendaknya tidak membawa kesulitan atau menyusahkan bagi orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s