Kepingan Perjalanan #5

Coffea canephora, nama lain untuk kopi berjenis robusta yang sedang aku padangi malam hari ini mengantarkan ingatanku pada masa kecil dulu. Saat itu ayahku sedang memantau pekerjaannya di sebuah proyek pusat perbelanjaan yang berada di kawasan Pluit, Jakarta. Beliau mengajak diriku mengunjungi setiap lantai untuk memeriksa perkembangan jalannya semua ruangan. Namun, aku yang cepat bosan saat itu memutuskan untuk tidak lagi mengikutinya dan meminta untuk bermain di tempat lain. Pesan beliau hanya satu, bahwa jangan sampai aku ikut pada orang yang baru saja aku kenal tanpa memastikan bagaimana sebenarnya kepribadian orang tersebut. Aku menganguk pada beliau sebagai tanda bahwa aku mengerti pada setiap kalimat yang dilontarkan olehnya.

Rasa penasaran menjelajahi setiap bagian proyek tak terasa malah membawaku hingga ke pintu gerbang kawasan tersebut. Ragu-ragu untuk melewati gerbang tersebut awalnya, tetapi kebosanan menjelajahi kawasan itu membuatku ingin sekali keluar dari sana. Aku pun mulai menyusuri tepian danau yang ada di sekeliling area proyek tersebut setelah meyakinkan diri melewati pintu gerbang itu. Tak sadar sudah sejauh apa aku berjalan, kini aku mulai kebingungan untuk mencari jalan pulang ke tempat kerja ayahku. Saat itu pula rasanya jalan raya yang ada di sekitarku sangat sepi pejalan kaki. Hanya ada mobil dan motor yang berlalu-lalang sambil tidak mempedulikan ada anak kecil yang berjalan seorang diri.

Solusi yang dapat aku gunakan pada saat itu hanya satu, yaitu aku harus dapat mencari kendaraan umum atau bus kota yang mempunyai trayek Pluit – Blok M. Karena rute untuk pulang menuju rumah yang paling mudah aku ingat adalah menggunakan kendaraan umum dari Terminal Bus Blok M. Mungkin secara tidak sadar itulah emergency plan (rencana darurat) apabila aku sedang tersesat yang sudah aku hapal sejak pertama kali aku dapat menggunakan kendaraan umum sendiri tanpa orang tuaku. Atau bisa jadi karena aku sadar bahwa aku anak yang mudah hilang dari pengawasan orang tua akhirnya aku belajar untuk menghapalkan rute tersebut. Hahaha.

Saat sedang berjalan kaki mencari persimpangan jalan besar terdekat aku melihat di kejauhan ada seseorang yang sedang mengendarai sepeda. Akhirnya aku tunggu ia mendekati posisiku karena aku pikir itu adalah kesempatan pertamaku untuk bertanya rute yang dapat aku gunakan dalam menemukan jalur yang dilewati kendaraan umum. Saat orang tersebut berada tepat di hadapanku segera aku memberanikan diri untuk bertanya dan dia menjelaskan rute tersebut padaku. Tidak lama setelah menjawab pertanyaanku, orang tersebut malah menawariku untuk menaiki sepedanya dan berkata bahwa akan ia antarkan ke persimpangan yang aku maksud.

Kuperhatikan dengan seksama orang itu, rasanya tidak ada yang mencurigakan dari penampilannya. Entah angin apa yang meyakinkanku, akhirnya aku pun setuju dengan sarannya dan naik di bocengan sepeda miliknya. Ia pun segera mengayuh sepedanya menuju ke arah yang aku sendiri tidak tahu akan berakhir di mana. Setelah agak lama berada di atas bocengan sepeda itu sayup-sayup kudengar ada yang memanggil nama ku dari arah belakang dan kudengar ada kata berhenti di sela-sela kalimat panggilan itu.

Kutolehkan kepalaku ke belakang dan kulihat di sana ayahku sedang berdiri bersama dengan salah satu pekerjanya berteriak memanggilku. Pengendara itu kaget dan segera menurunkanku, tetapi anehnya yang saat itu belum aku mengerti pengendara itu langsung pergi begitu saja setelah menurunkanku di sana. Akhirnya aku pun dibawa kembali menuju kawasan proyek tempat ayahku bekerja. Saat telah berada di sana secara perlahan baru aku dapat menyatukan setiap kepingan cerita tersebut. Bahwa aku hampir saja dibawa oleh orang yang aku tidak kenal tersebut. Karena jalur yang dilalui olehku dan pengendara itu ternyata tidak menuju ke arah jalan yang biasanya dilalui oleh trayek bus melainkan kea rah lain. Ayahku dan pekerjanya yang sedang berhenti di sekitar tempat di mana aku diturunkan itu melihatku tepat setelah mereka selesai bertanya pada penjaga warung yang ada di sekitar sana tentang keberadaan anak kecil sambil menjelaskan perawakanku.

Sebuah pelajaran berharga untuk diriku pada hari itu, bahwa terkadang aku lupa melaksanakan setiap pesan yang telah disampaikan dan ketika aku sedang berada dalam kondisi terpojok sering kali aku membuat solusi sendiri sambil mengabaikan pesan tersebut dalam pelaksanaannya.

Bisa saja hal itu malah akan membawaku pada sebuah kejadian yang mungkin saja dapat mencelakakan diriku sendiri. Untungnya saat itu nasib baik masih berpihak pada diriku hingga akhirnya aku masih dapat ditemukan. Karena aku sendiri masih belum dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kalau saat itu kejadiannya tak seperti itu.

Satu hal lagi, dalam keadaan terdesak sekali pun sebaiknya menaruh sebuah kepercayaan itu juga harus pada orang yang tepat. Bukan hanya pada orang yang kita anggap atau sekedar yakini dapat menjadi penolong kita saja, tetapi berikan kepercayaan itu pada orang yang benar-benar dapat menolong kita dan membatu mengeluarkan kita dari kesulitan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s