Kepingan Perjalanan #6

Silika (SiO2) adalah salah satu bahan untuk membuat lampu taman berbentuk bulat yang aku lihat di perjalanan beberapa waktu lalu. Melihat lampu itu mengingatkanku pada kejadian saat aku masih kecil dulu. Pada masa itu keluargaku pernah mengontrak rumah di daerah Jakarta Selatan. Seperti anak kecil pada umumnya, setiap sore aku bermain bersama beberapa anak sebaya yang tinggal di sekitar rumahku. Di lingkungan itu ada salah satu tembok yang membatasi daerah tempat tinggal kami dengan komplek perumahan yang ada di sebelahnya. Tepat di balik tembok itu terdapat sebuah rumah yang konon katanya adalah milik seorang pensiunan aparatur negara. Sedangkan di sisi tembok bagian lingkungan tempat tinggal kami adalah tempat warga menaruh barang-barang yang sudah tak terpakai lagi. Aku dan teman-teman suka melakukan lomba yang aneh-aneh saat sore hari, salah satunya adalah melempar benda dari tempat pembuangan itu hingga melewati tembok dan mencatat siapa anak yang dapat mencapai jarak lemparan terjauh sebagai pemenangnya.

Setiap anak mulai melempar benda yang ada di tangannya sejauh mungkin, hasilnya benda tersebut melayang jauh ke depan kami. Tak sedikit benda yang akhirnya melayang hingga memasuki area rumah aparatur tersebut. Permainan terus berlanjut karena setiap anak selalu ingin mencoba lagi hingga mampu mencapai jarak terjauh yang dapat dilakukannya. Tanpa terasa sudah semakin sedikit benda berukuran kecil yang dapat kami lemparkan hingga yang tersisa di sekitar kami hanya benda-benda tak terpakai dengan ukuran yang cukup besar. Salah satu benda berukuran besar tersebut adalah kaleng bekas cat yang saat ini aku genggam.

Karena aku adalah anak pertama yang memiliki benda untuk dilemparkan, akhirnya semua sepakat bahwa aku yang akan menjadi pelempar pertama dengan benda yang berukuran besar. Bayanganku saat itu kaleng tersebut akan melayang jauh melewati tembok dan gerbang pagar rumah yang ada di balik tembok. Namun, ternyata setelah aku melemparkannya dengan sekuat tenaga kaleng itu malah menukik tajam kea rah gerbang pagar rumah.

Saat itu seolah aku menyaksikan sebuah adegan lambat kaleng tersebut melayang menuju ke arah lampu yang ada di dekat pagar. Aku pun berkata dalam hati bahwa sebentar lagi pasti akan terjadi tumbukan yang keras antara kaleng dan lampu yang terbuat dari kaca itu. Dalam waktu sepersekian detik berikutnya suara benda pecah diterima oleh daun telingaku.  Otak anak kecilku pun merespon bahwa ini adalah sebuah bahaya. Hal yang awalnya hanya iseng belaka sekarang berubah menjadi sebuah malapetaka. Bagaimana aku dapat menjelaskan semuanya pada pemilik lampu tersebut atau bahkan pada orang tuaku.

Kami semua yang ketakutan akhirnya berlari sekuat tenaga menuju ke rumah kami masing-masing. Aku berlari paling kencang karena merasa bahwa pelaku semua ini adalah diriku sendiri dan tentu saja aku yang akan dimintai pertanggung jawaban. Aku yang masih kecil itu masih terlalu pengecut dan belum belajar untuk berani menghadapi masalah. Akhirnya solusi yang terpikirkan olehku saat adalah kabur menuju ke dalam kamar dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Aku berdiam diri di kolong tempat tidur sambil bernapas terengah-engah dan bercucuran keringat, entah saat itu keringat dingin atau keringat yang bersuhu hangat.

Aku sadar bahkan saat aku sedang kabur dan bersembunyi dari masalah, sebenarnya aku tidak dapat lari dari apa-apa.  Karena akan selalu ada perasaan bersalah yang mengikuti diriku ke mana pun. Namun aku tetap memilih bersembunyi, mencari perlindungan semu.

Apa yang terjadi kemudian, masih sesuai dengan bayangan ku saat itu. Beberapa orang yang aku ketahui sebagai pengurus di rumah besar yang lampunya aku pecahkan tersebut datang ke rumahku. Mereka berbicara dengan orang yang berada di dalam rumahku, hingga akhirnya mereka semua mendatangi ku yang sedang merasa bersalah ini di bawah kolong tempat tidur. Aku pun meronta tak ingin keluar dari sana pada awalnya. Menolak dan terus menolak, hingga akhirnya aku tak punya pilihan lain. Satu-satunya yang harus aku lakukan adalah menghadapi masalah yang sudah aku ciptakan sendiri.

Namun, saat aku sudah pasrah untuk menerima apa pun ganjaran atas perbuatanku. Pada titik itu pula aku merasa semua yang aku bayangkan sebelumnya tak akan pernah terjadi, apa yang aku takutkan bahwa aku akan dimarahi atau dihukum seberat-beratnya. Mereka semua hanya menasehatiku dengan cara yang bijak. Asalkan aku tak mengulangi perbuatan yang dapat merugikan mereka lagi. Tetapi dengan satu syarat bahwa aku harus rela kehilangan uang jajanku sebagai penebusan atas semua kerugian pada orang lain yang telah aku lakukan.

Hari itu aku belajar bagaimana rasanya takut, bagaimana rasanya lari dari masalah adalah solusi terbaik yang semu, dan bagaimana rasanya perasaan bersalah akan mengikutiku ke mana pun walau aku dapat bersembunyi. Namun, di sisi lain aku juga belajar bagaimana bertanggung jawab atas masalah yang sudah aku buat, belajar bagaimana berani untuk menghadapi masalah, dan belajar bahwa sebuah kerugian yang aku lakukan pada orang lain harus aku tebus dengan melakukan pengorbanan terhadap diri sendiri. Saat itu pula aku belajar bagaimana berdamai dengan diri sendiri beserta rasa bersalah yang mengejar ku sedari tadi.

Ternyata semua ketakutan itu berakhir dan berubah menjadi hal yang menenangkan saat kita berani menghadapi serta mempertanggung jawabkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s